“Produk Jepang seperti mobil dan elektronik telah diakui kualitasnya oleh dunia, kemudian kami berpikir – kenapa kami tidak menggunakan pengetahuan di sektor tersebut untuk pakaian?”
Shin Odake, Chief Operating Officer dan Acting-CEO Uniqlo USA adalah figur yang memperkenalkan Uniqlo pada Lean Manufacturing. Odake berpikir bahwa Lean akan cocok diterapkan dalam industril retail.
Uniqlo Way
Transparansi, standarisasi, dan Kaizen adalah budaya yang berkembang di Uniqlo. Agenda briefing berisi informasi perusahaan, isu, dan motivasi untuk tetap menjadikan pelanggan sebagai fokus utama. Segala informasi termasuk penjualan juga ditempel dalam mading.
Karyawan yang bertugas melipat kaos harus mampu melakukannya secepar 6 kaos dalam satu menit, tanpa alat bantu karton yang sering digunakan di perusahaan lain. Transaksi di kasir harus selesai dalam waktu kurang dari 60 detik.
Uniqlo juga mengontrol seluruh proses bisnisnya untuk memastikan produk yang dihasilkan akan memenuhi standar kualitas sang sangat tinggi.
Pengembangan Produk dari Feedback Pelanggan
Pelanggan berperan penting dalam pengembangan produk. Customer service mereka menerima tidak kurang dari 70.000 komentar pelanggan tiap tahun. Berbagai testimoni dikumpulkan di pusat Research & Development mereka dan dijadikan dasar pengembangan setiap produk baru, sehingga hasilnya akan memenuhi ekspektasi pelanggan dari sisi kualitas dan desain.
Bahan dari Seluruh Dunia
Negosiasi langsung dilakukan dengan para pemasok bahan dari seluruh dunia, sehingga Uniqlo mampu memperoleh bahan berkualitas tinggi dengan biaya rendah.
Agar biaya inventori dapat ditekan, Uniqlo menggunakan konsep Lean Manufacturing. Caranya adalah memantau pola penjualan mingguan dan melakukan pemesanan bahan tepat sebelum dibutuhkan (just-in-time), sehingga mereka terhindar dari penumpukan inventori.
Jika Uniqlo mengidentifikasi adanya penurunan penjualan, mereka menggunakan bahan yang sama untuk berbagai produk yang berbeda. Misalnya, jika penjualan sweater kasmir mereka menurun, mereka akan memakai bahan yang sama dengan sweater tersebut untuk membuat syal.
Tim Ahli Takumi
Tim Ahli Takumi di Uniqlo beranggotakan para ahli yang berpengalaman di bidang tekstil selama lebih dari 30 tahun yang akan menginspeksi langsung ke pabrik-pabrik mitra untuk memberikan instruksi teknis dan usulan perbaikan. Pada saat yang sama, para pengawas dari Departemen Produksi, juga melakukan kunjungan mingguan ke pabrik-pabrik mitra untuk memeriksa kualitas dan kemajuan produksi.
Prinsip – prinsip Lean Manufacturing yang diadaptasi oleh Uniqlo ini terbukti mampu meningkatkan kecepatan respon terhadap keinginan pelanggan dengan efisien. Inilah cara Uniqlo menjalankan bisnisnya.
Ingin mengetahui apa yang dapat dilakukan SSCX di sektor jasa (retail and logistic) atau di sektor keuangan/finansial atau di sektor hospitality dan pelayanan?