logo
✕
  • Home
  • Industries
    • Engineering & Construction
    • Financial Services
      • Banking
      • Finance
      • Insurance
    • Government
    • Healthcare & Pharmaceuticals
    • Manufacturing
    • Mining, Energy & Utilities
    • Real Estate, Hospitality & Tourism
    • Retail & Logistics
    • Technology & Telecommunication
  • Capabilities
    • Change management initiatives
    • Continuous improvement workshops
    • Data analytics for informed decision-making
    • Digital process mapping and optimization
    • End-to-end supply chain assessment
    • Enhancing Productivity and Efficiency
    • Implementing Lean and Six Sigma Methodologies
    • Inventory and logistics optimization
    • Leadership and team development
    • Lean Six Sigma certification programs
    • Performance management systems
    • Process automation and digitization
    • Reducing Operational Costs
    • Strategy deployment and alignment
    • Supplier performance management
  • Services
    • In House Training Program
    • Public Trainings & Webinars Program
    • Project Implementation
  • Insights
    • Blog
    • Bolder Results
  • Company Profile
    • About Us
    • Company Group & Affiliates
    • Our People
  • Careers
  • Contact
✕
  • Home
  • Industries

    Industry

    • Engineering & Construction
    • Financial Services
      • Banking
      • Finance
      • Insurance
    • Government
    • Healthcare & Pharmaceuticals
    • Manufacturing
    • Mining, Energy & Utilities
    • Real Estate, Hospitality & Tourism
    • Retail & Logistics
    • Technology & Telecommunication
  • Capabilities

    Capability

    • Operational Excellence
      • Implementing Lean and Six Sigma methodologies
      • Enhancing productivity and efficiency
      • Reducing operational costs
    • Digital Transformation
      • Process automation and digitization
      • Data analytics for informed decision-making
      • Digital process mapping and optimization
    • Supply Chain Optimization
      • End-to-end supply chain assessment
      • Inventory and logistics optimization
      • Supplier performance management
    • Strategy Execution
      • Strategy deployment and alignment
      • Performance management systems
      • Change management initiatives
    • Capability Building & Training
      • Lean Six Sigma certification programs
      • Leadership and team development
      • Continuous improvement workshops
  • Services
    • In House Training Program
    • Public Trainings & Webinars Program
    • Project Implementation
  • Insights
    • Blog
    • Bolder Results
  • Company Profile
    • About Us
    • Company Group & Affiliates
    • Our People
  • Careers
  • Contact
✕
Membangun Perusahaan Tangguh di Tengah Disrupsi Ekonomi Dengan Agile Enterprise - SSCX International

Membangun Perusahaan Tangguh di Tengah Disrupsi Ekonomi Dengan Agile Enterprise - SSCX International

Membangun Perusahaan Tangguh di Tengah Disrupsi Ekonomi dengan Agile Enterprise

Membangun Perusahaan Tangguh di Tengah Disrupsi Ekonomi Dengan Agile Enterprise - SSCX International

Daftar Isi:

  • Pengantar
  • Dimensi Penting dalam Agile Enterprise
  • Flat Organization dan Collaboration dalam Agile Enterprise 
  • Hambatan dalam Mencapai Agile Enterprise 
  • Contoh Implementasi 
  • Kesimpulan 
  • Frequently Asked Questions (FAQs) 
  • Referensi

Kebutuhan dan keinginan konsumen sangatlah dinamis dikala situasi ekonomi sering naik turun. Disisi lain, teknologi terus berkembang dengan cepat. Kondisi inilah yang mengharuskan perusahaan untuk beralih ke struktur yang fleksibel sehingga memiliki kemampuan tinggi untuk merespons perubahan. Dalam istilah manajemen, ini disebut sebagai Agile Enterprise. Sebelum itu perlu dipahami juga, realitas bisnis selalu kompleks. Mengadopsi pendekatan agile bukan semata mata menggunakan metodologi dan struktur baru. Secara realistis, ini merupakan upaya namun disaat yang sama juga merupakan tantangan fundamental yang menuntut kepemimpinan, pemahaman tentang budaya kerja, struktur organisasi dan potensi resiko.  Oleh karena itu, melalui artikel ini,  kita akan mengeksplorasi mengeksplorasi bagaimana dan mengapa agile dapat menjadi strategi yang efektif. Kita akan menelusuri studi kasus nyata untuk melihat bahwa implementasi yang berhasil sering kali dimulai secara bertahap dan terfokus pada area-area tertentu yang memang membutuhkan kecepatan.

Dimensi Penting dalam Agile Enterprise

  • Value-Driven (Berbasis Nilai)
    Perusahaan harus memastikan semua yang mereka kerjakan selaras dengan tujuan strategis yang jelas, disebut juga dengan OKR (Objectives & Key Results). Artinya, perusahaan harus tetap objektif dan berorientasi pada hasil. Perlu diingat, seringkali kegagalan perusahaan disebabkan karena strategi dan pelaksanaan tidak selaras. Poin utamanya adalah seluruh divisi harus memastikan setiap hal yang dikerjakan berdampak pada progres perusahaan. Hal ini dapat ditunjang dengan keterlibatan aktif dari seluruh karyawan, atau pendekatan dari bawah (bottom up). 

  • Product-Centric (Berfokus pada Produk dan Layanan)
    Perusahaan berfokus pada produk dan layanan yang dibutuhkan konsumen. Artinya masing-masing tim bertanggung jawab terhadap satu produk, mulai dari ide, pengembangan, sampai evaluasi. Dengan kata lain mereka harus dibentuk berdasarkan keahlian dari setiap divisi atau departemen. Dengan cara ini, produk bisa dikembangkan lebih cepat, terus diperbarui, dan relevan dengan konsumen karena didesain oleh tim yang fokus dengan kebutuhan pasar.

  • Jugaad & Sustainable (Inovatif dan Berkelanjutan)
    Jugaad adalah konsep budaya India yang bersifat lokal, informal, dan pendekatan dari bawah atau bottom-up. Istilah ini muncul melalui improvisasi dalam kondisi kekurangan sumber daya. Istilah ini tidak disusun dari prinsip metodologis sistematis, melainkan tumbuh dari praktik sehari-hari masyarakat yang harus “memaksa solusi” ketika sistem tidak memadai. Dalam konteks manajemen, hal ini mencoba “menjembatani” jugaad sebagai contoh praksis dari agility dalam konteks negara berkembang, karena ia menunjukkan bahwa ketangkasan bisa lahir dari keterbatasan, bukan hanya dari teknologi atau struktur canggih.

    Meskipun jugaad bukan merupakan turunan langsung dari agile enterprise, keduanya memiliki kesamaan pada nilai dasarnya, yaitu penolakan terhadap struktur yang kaku, kecepatan dalam merespons perubahan, dan fokus pada penyelesaian masalah secara iteratif. Hubungan antara keduanya bersifat analogis. Jugaad dapat dilihat sebagai bentuk spontan dan informal dari ketangkasan, sedangkan agile adalah pendekatan sistemik dan terstruktur yang dirancang untuk menciptakan organisasi yang adaptif secara menyeluruh. Dengan demikian, jugaad relevan dalam diskursus agile bukan karena ia merupakan bagian dari kerangka metodologis agile, melainkan karena ia menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi tidak harus selalu lahir dari sistem yang canggih, tetapi tumbuh dari keterbatasan, asalkan dikelola dan dikembangkan dalam kerangka organisasi yang tepat.

  • Composable & Agile IT (Sistem Teknologi yang Fleksibel dan Terintegrasi)
    Aspek teknologi juga harus mengikuti perkembangan lalu dihubungkan, dan disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak perlu membangun semuanya dari nol cukup menyusun ulang komponen yang ada agar bisa lebih cepat meluncurkan layanan. Teknologi dan tim bisnis juga tidak boleh bekerja terpisah; mereka harus kolaboratif, sehingga pengembangan produk bisa cepat dan sesuai kebutuhan pasar.

  • Data-Driven (Berbasis Data)
    Banyak perusahaan mengumpulkan data, tapi tidak tahu cara menggunakannya. Intinya, mereka dapat menggunakan data dan fakta dari kejadian yang lampau,  peristiwa terbaru, hingga studi kasus yang relevan untuk dijadikan evaluasi dan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Intinya membaca data harus menjadi budaya seluruh karyawan agar keputusan yang diambil lebih tepat.

  • Flat & Collaborative (Struktur Rata dan Kolaboratif)
    Struktur perusahaan yang terlalu hirarkis dan birokratis justru memperlambat kinerja dan sulit beradaptasi. Maka, merampingkan struktur, mengurangi lapisan manajemen, dan mendorong kerja sama lintas tim sangat harus diterapkan. Hal ini akan mendorong karyawan untuk berkembang dan memiliki suara dalam mengambil keputusan. Pada akhirnya, ini akan mendorong kerja tim yang lebih dinamis, cepat dalam mengambil keputusan, dan meningkatkan rasa kepemilikan terhadap perusahaan.

Flat Organization dan Collaboration dalam Agile Enterprise 

Ini merujuk pada poin ke enam dimensi Agile Enterprise. Dimana struktur organisasi yang terlalu berlapis atau penuh hirarki sering kali membuat perusahaan menjadi lambat dalam mengambil keputusan. Setiap keputusan harus melewati banyak lapisan atasan, sehingga ide dari karyawan di bawah sering tertahan atau bahkan tidak sampai ke pengambil keputusan. Selain itu, birokrasi yang terlalu rumit membuat orang enggan mengambil inisiatif karena harus melewati prosedur panjang. Akibatnya, perusahaan jadi sulit bergerak cepat, sulit berinovasi, dan ketinggalan dari perusahaan pesaing yang lebih cepat.

Dalam Agile Enterprise, struktur organisasi dibuat lebih datar agar komunikasi lebih langsung dan keputusan bisa diambil lebih cepat. Kolaborasi antar tim juga sangat ditekankan, karena hasil terbaik muncul dari kerja sama seluruh karyawan dari lintas divisi. Dengan struktur yang lebih sederhana dan budaya kolaboratif, karyawan merasa lebih diberdayakan dan punya ruang untuk berkontribusi. Dengan begitu, ini membuat perusahaan lebih adaptif terhadap perubahan, mudah berinovasi, dan mampu memberikan respons yang lebih cepat terhadap kebutuhan pasar maupun konsumen.

Hambatan dalam Mencapai Agile Enterprise 

1. Tidak adanya toleransi terhadap kegagalan
Budaya perusahaan yang tidak mendukung pengambilan risiko justru menjadi salah satu penghambat dalam mencapai Agile Enterprise. Jika kegagalan dianggap sebagai hal yang harus dihindari, maka inovasi dan perbaikan berkelanjutan akan sulit terjadi.

2. Kepemimpinan yang tidak sejalan
Banyak pemimpin perusahaan yang terbentuk dari sistem kerja lama yang kaku, lambat, dan hierarkis. Ketika perusahaan ingin berubah menjadi lebih cepat dan adaptif, justru pemimpin inilah yang terkadang menjadi penghambat, karena masih terpaku pada cara lama. Untuk menjadi perusahaan yang adaptif, pemimpin harus ikut berubah; mereka perlu memberi contoh, terbuka terhadap cara kerja baru, dan aktif menciptakan lingkungan yang mendukung percobaan, inovasi, dan pembelajaran dari kegagalan.

3. Organizational silos
Ketika setiap bagian dalam perusahaan bekerja secara terpisah dan tidak saling berbagi informasi. Misalnya, bagian pemasaran, keuangan, dan operasional hanya fokus pada tugas mereka sendiri dan tidak bekerja sama untuk menyelesaikan masalah konsumen secara menyeluruh. Dalam Agile Enterprise, semua bagian harus bekerja secara terintegrasi, saling berkolaborasi, dan berbagi data agar bisa memberikan solusi terbaik dengan cepat dan efisien.

Contoh Implementasi Agile Enterprise 

Salah satu perusahaan yang menerapkan pendekatan ini yakni ING bank. Sebuah perusahaan raksasa keuangan global dan kantor pusatnya berada di Belanda.  Memiliki lebih dari 52.000 karyawan dan nasabahnya lebih dari 40 negara. ING menawarkan berbagai layanan, mulai dari perbankan ritel, perbankan korporat, hingga layanan manajemen aset. 

Tepat satu dekade lalu, atau di tahun 2015 mereka mulai berpikir untuk bertransformasi.  Sebenarnya di tahun ini perusahaan berjalan lancar secara keseluruhan, namun saat itu perilaku konsumen dan pelaku bisnis industri lain perlahan mengarah pada kebutuhan digital. Sebagai perusahaan multinasional, tentu mereka harus cepat merespon keadaan ini. ING mengadopsi model transformasi bisnis yang terinspirasi dari Google, Spotify dan lainnya. Mereka memulai langkahnya dari sekitar 3.500 staf di kantor pusat Belanda. Ini adalah tim yang dianggap paling relevan untuk pengembangan produk digital dan teknologi. Tim-tim ini kemudian dipecah menjadi 350 "squads" (tim otonom kecil) yang dikelompokkan dalam 13 "tribes" (kelompok squad yang lebih besar). Yang mana dalamnya berisikan karyawan dari berbagai keahlian seperti pemasaran, konsumen, analis, spesialisasi produk hingga teknologi informasi.

Tentu penerapan ini tidaklah instan, perusahaan setidaknya butuh delapan hingga sembilan bulan hingga menjadi panduan cara kerja di kantor pusat. Mereka bahkan menghabiskan dua bulan awal dengan lima sesi pertemuan untuk merancang struktur baru, sistem komunikasi hingga cara koordinasi. Dari ratusan squad yang dibentuk, mereka menggunakan 6 contoh pilot squad sebagai uji coba demi menyempurnakan     desain organisasi, lingkungan kerja, dan pengaturan keseluruhan. 

Berlanjut, perusahaan memutuskan untuk melakukan restrukturisasi. Menariknya mereka melakukan seleksi ulang pada 2.500 karyawan lebih. Ini dilakukan untuk merombak budaya kerja dan pola pikir dari cara kerja sebelumnya. Hasilnya, hampir 40% karyawan menempati posisi yang berbeda dari sebelumnya. Keputusan ini, menjadi pisau bermata dua. Karena karyawan harus memulai ulang cara kerja departemen yang baru dan mulai semua dari awal.   Namun saat itu, perusahaan yakin bahwa kompetensi teknis dapat dibangun ulang selama individu memiliki pola pikir yang sesuai dengan tujuan perusahaan ke depan. 

Di lain sisi, hal tersebut bisa menjadi salah satu tantangan dan kendala apabila perusahaan tidak dapat mengelolanya. Perubahan ini dapat memunculkan resistensi dari karyawan.  Tantangan lain juga dihadapi perusahaan saat awal penerapannya. Mereka tidak melibatkan secara langsung di bagian seperti sumber daya manusia (SDM), keuangan, pusat panggilan, manajemen risiko kantor cabang dan infrastruktur TI pada sistem Squad dan Tribes. Pertimbangannya, bukan karena mereka tidak mampu bertransformasi, tetapi karena karakter kerjanya memang tidak mudah diselaraskan dengan pola kerja iteratif (siklus) dan otonom khas Agile Enterprise.  Ini secara jelas menggambarkan bahwa ada pemisahan,dalam penerapan Agile, dimana tidak semua tim atau unit menggunakan pendekatan yang sama, sehingga bisa timbul inkonsistensi dalam cara kerja, dan metrik kinerja.  Solusi yang diambil adalah departemen tersebut diberi lebih banyak kebebasan dan bekerja secara mandiri, tanpa harus selalu menunggu perintah dari manajer. Jadi, walaupun mereka tidak masuk ke struktur agile formal, mereka tetap bekerja dengan cara yang lebih lincah, cepat, dan fleksibel. Pada bagian manajemen kantor cabang, karena tim penjualan dan cabang sulit diubah secara total ke struktur agile, maka solusinya bukan dengan merombak, tapi dengan memasukkan elemen-elemen agile ke dalam rutinitas kerjanya. Untuk bagian seperti hukum dan keuangan yang harus tetap independen, mereka tidak masuk ke dalam tim agile, tapi tetap bekerja sama dan memberi dukungan secara langsung jika dibutuhkan. Dengan cara ini, perusahaan bisa tetap menjalankan prinsip agile, sambil menjaga agar bagian-bagian penting tetap berfungsi dengan baik.

Hasil dari implementasi Agile Enterprise meskipun tidak ada angka spesifik keuntungan bersih yang dirilis, ING menargetkan penghematan biaya operasional tahunan sebesar €900 juta. Penghematan ini berasal dari efisiensi operasional dan pengurangan birokrasi, yang merupakan hasil langsung dari penerapan agile. Namun, dari segi kepuasan dan loyalitas pelanggan mengalami peningkatan yang terlihat dari Net Promoter Score (NPS). Melonjak dari -30 menjadi +30. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pelanggan tidak hanya puas, tetapi juga lebih loyal, yang pada akhirnya meningkatkan retensi pelanggan dan pendapatan jangka panjang. Begitu juga dari keterlibatan karyawan, transformasi ini memiliki dampak positif pada budaya kerja. Survei internal menunjukkan tingkat keterlibatan karyawan mencapai 88% di beberapa tim, karena mereka merasa lebih diberdayakan dan memiliki otonomi yang lebih besar.

Meskipun transformasi agile ING Group sering dijadikan studi kasus sukses, penting untuk melihatnya secara realistis. Keberhasilan ini tidak diraih dalam semalam dan tidak berlaku seragam di semua unit bisnis. ING, sebagai perusahaan besar, tidak merombak seluruh organisasinya menjadi agile secara total, melainkan menerapkan pendekatan hibrida. Fungsi-fungsi pendukung seperti legal dan keuangan tetap beroperasi dengan struktur yang kaku demi kepatuhan, sementara unit yang membutuhkan kelincahan seperti pengembangan produk digital yang diubah. Oleh karena itu, pengalaman ING harus dipahami sebagai sebuah perjalanan evolusioner yang terus berlanjut, bukan sebagai blueprint universal yang dapat diterapkan secara identik di setiap perusahaan.

Frequently Asked Question (FAQs)

1. Kenapa perusahaan saat ini perlu berubah menjadi lebih cepat atau agile?
Karena kebutuhan konsumen berubah dengan cepat, teknologi berkembang pesat, dan situasi ekonomi tidak menentu. Perusahaan yang lambat dan kaku akan kesulitan bertahan, sementara yang agile bisa lebih cepat menyesuaikan diri dan tetap relevan.

2. Apa yang dimaksud dengan pendekatan berbasis nilai (value-driven)?
Semua aktivitas perusahaan diarahkan untuk mendukung tujuan strategis yang jelas dan terukur. Setiap keputusan, proyek, atau inisiatif harus memberikan kontribusi nyata terhadap kemajuan perusahaan dan pelanggan. 

3. Mengapa teknologi harus fleksibel dalam Agile Enterprise?
Karena teknologi yang fleksibel memungkinkan perusahaan menyesuaikan sistem dengan cepat, tanpa membangun ulang dari awal. Hal ini mempercepat inovasi dan pengiriman permintaan pasar 

4. Apa saja ciri utama perusahaan yang sudah menerapkan Agile Enterprise?
Perusahaan agile memiliki struktur organisasi yang datar, tim lintas fungsi yang kolaboratif, budaya yang mendukung inovasi, serta proses kerja yang cepat dan berbasis data. Fokus utamanya adalah menciptakan nilai nyata bagi pelanggan dan karyawan.

5. Bagaimana cara memulai transformasi menjadi Agile Enterprise?
Mulailah dari tim kecil yang paling butuh kecepatan, beri otonomi, jalankan uji coba, lalu perluas secara bertahap ke tim lain sambil menyesuaikan budaya dan kepemimpinan.

Dalam menghadapi perubahan pasar yang cepat dan tidak terduga, perusahaan dituntut untuk menjadi lebih responsif, adaptif, dan tepat dalam mengambil keputusan. Konsep Agile Enterprise hadir sebagai solusi dengan enam dimensi utama: berorientasi pada nilai, berfokus pada produk, inovatif dan berkelanjutan, teknologi yang fleksibel, pengambilan keputusan berbasis data, serta struktur organisasi yang datar dan kolaboratif. Setiap dimensi tersebut bertujuan untuk membuat perusahaan lebih gesit, terkoordinasi, dan relevan dengan kebutuhan konsumen maupun tantangan global. Namun, untuk mencapainya, perusahaan perlu mengatasi hambatan seperti budaya yang takut gagal, kepemimpinan yang kaku, serta pola kerja terpisah antar departemen. Dengan mengubah pola pikir, struktur, dan cara kerja, Agile Enterprise memungkinkan organisasi untuk tumbuh lebih cepat, inovatif, dan siap menjawab tantangan masa depan.

Referensi 

ING's agile transformation. (2017, January 10). McKinsey. Retrieved August 1, 2025, from https://www.mckinsey.com/industries/financial-services/our-insights/ings-agile-transformation 

Agile Business Consortium. (n.d.). Case study: ING's digital platform tribe goes Agile. Agile Business. Retrieved July 31, 2025, from https://www.agilebusiness.org/resource-report/case-study-ings-digital-platform-tribe-goes-agile.html 

Vivek Kale. (2018). Agile Network Businesses. CRC Press Taylor & Francis Group. 

Siegel, M., & Booth, C. (2020). Six dimensions of the agile enterprise: What leading companies are doing. Strategy&, PwC. https://www.strategyand.pwc.com/

Capgemini Invent. (2022). Agile enterprise: Re-establishing the balance between client and talent expectations. https://www.capgemini.com/resources/business-agility/

Read more Insights

April 24, 2026

Pentingnya Memahami Kebutuhan Konsumen Dalam Proses Produksi

June 20, 2025
Lean Six Sigma Green Belt_ Investasi Strategis Pengembangan Karir

Lean Six Sigma Green Belt: Investasi Strategis Pengembangan Karir

December 19, 2025
Workload Analysis Strategi Utama Tingkatkan Efektivitas Alokasi Beban Kerja - SSCX International

Workload Analysis: Strategi Efektif untuk Menjaga Keseimbangan Beban Kerja dan Produktivitas

February 27, 2026
Just In Time Manufacturing Strategi Utama Tingkatkan Ketepatan Waktu dan Kualitas Produk - SSCX International

Just In Time Manufacturing: Strategi Utama Tingkatkan Ketepatan Waktu dan Kualitas Produk

See more

Bolder Result.

Featured Insights: SSCX’s most inspiring thought leadership on issues shaping the future of business and society.


Membangun Perusahaan Tangguh di Tengah  Disrupsi Ekonomi Dengan Agile Enterprise

SSCX as a consulting firm which’s focusing in Operational Excellence, productivity, and business process improvement. SSCX delivers breakthrough results that make businesses more efficient and productive, cost effective, and achieving operational excellence.

Company Profile
  • About Company
  • Company Group & Affiliates
Industry
  • Financial
  • Healthcare Provider
  • Manufacturing
  • Mining, Energy, Utilities
  • Retail & Logistics
Expertise
  • Sustainable Operational Excellence Systems
  • Rapid Efficiency and Effectiveness Program
  • Profitability Prior to Sale or Acquisition
  • Productivity Improvement System
  • Profit Through Productivity Improvement
  • Cash Flow Improvement Program
Services
  • In House Training Program
  • Public Training Program
  • Project Implementation
  • Careers
  • Contact Us
  • Privacy & Terms

© 2026 SSCX International | All Rights Reserved

✕