Transformasi Organisasi Melalui Kakushin

Daftar Isi:
- Pengantar
- Kaizen, Kaikaku, dan Kakushin
- 20-20 Process Model
- Contoh Implementasi Kakushin
- Frequently Asked Questions (FAQs)
- Kesimpulan
- Referensi
Jika anda sering membaca artikel kami, pasti Anda tidak asing dengan beberapa istilah manajemen dari Jepang seperti Kaikaku, Kanban ataupun Kaizen. Nah, di pembahasan kali ini kita juga akan membahas hal serupa. Istilah ini bernama Kakushin. Secara harfiah, kakushin berarti inovasi atau reformasi, yang merujuk pada perubahan total dari sistem yang ada. Tujuannya untuk meningkatkan sesuatu, baik itu produk, proses kerja, atau cara berpikir. Istilah yang lebih akurat adalah inovasi disruptif yaitu ketika sebuah produk atau layanan bisa menciptakan pasar baru dan mengubah pandangan masyarakat.
Kaizen, Kaikaku, dan Kakushin
Kaizen, Kaikaku, dan Kakushin biasa disebut sebagai 3K dalam konsep Lean Thinking. Lalu, secara perlahan kita akan membahas perbedaan dari Ketiganya. Dimulai dari yang paling populer yakni Kaizen. Kaizen secara harfiah artinya perbaikan berkelanjutan, prosesnya dimulai dengan skala kecil serta dilakukan secara terus-menerus. Sedangkan, Kaikaku adalah pendekatan yang berfokus pada perubahan radikal dan terencana yang dilakukan dalam skala besar. Dimana implementasinya alokasi sumber daya yang besar, perencanaan yang matang, dan sering kali menghadapi resistensi dari karyawan karena cakupannya luas dan merubah struktur kerja. Di sisi lain, Kakushin dalam bahasa Jepang artinya inovasi atau reformasi, yang merujuk pada perubahan total dari sistem yang ada. Tujuannya untuk meningkatkan sesuatu, baik itu produk, proses kerja, atau cara berpikir. Kakushin dan Kaikaku memang memiliki kesamaan di skala perubahannya yang radikal. Tapi bukan berarti keduanya sama. Singkatnya, Kakushin dapat meningkatkan Kaikaku, bukan menggantikannya.
20-20 Process Model
Mengutip Lean Six Sigma Black Belt Handbook (Voehl dk) menyatakan, bahwa ada pendekatan tambahan bernama 20-20 process model. 20-20 Process Model adalah sebuah kerangka kerja untuk mengelola inovasi sebagai sebuah proses bisnis. Model ini dikembangkan sebagai respons terhadap kebutuhan perusahaan untuk mencapai pertumbuhan pendapatan melalui inovasi. Dengan kata lain, 20-20 Process Model dapat berperan sebagai kerangka kerja untuk mencapai Kakushin. Model ini memiliki enam poin sebagai berikut.
- Membangun Pola Pikir Inovasi = Tahap pertama berfokus pada pengembangan ide, sikap, dan strategi yang kuat untuk mengidentifikasi peluang. Model ini berpendapat, bahwa inovasi berasal dari berbagai sudut pandang, dan dari pandangan itu selalu ada hal unik dan berpotensi mengarah pada hal-hal inovatif versi perusahaan.
- Memahami Wilayah = Wilayah disini merujuk pada perkiraan dari cakupan suatu proyek pengembangan (inovatif). Tahap ini menekankan pentingnya pengumpulan data dan informasi. Tujuannya untuk menganalisis potensi masalah dan kemungkinan peluang yang ada. Dengan begitu, perusahaan dapat memilih jalur yang lebih efektif.
- Membangun Hubungan = poin ketiga menyoroti peran penting dari komunikasi dan interaksi. Pasalnya perubahan seringkali menimbulkan resistensi. Oleh karenanya, komunikasi berfungsi untuk menciptakan ekosistem baru dalam konteks SDM yang diperlukan untuk mendukung proses inovasi.
- Mengelola Perjalanan = Setelah ide dan SDM nya siap, langkah selanjutnya adalah menetapkan visi dan prioritas yang jelas. Fokusnya, ada pada penyelarasan dan komitmen terhadap proyek.
- Menciptakan Solusi = Ketika arahnya jelas, berikutnya perihal eksekusi teknis. Dengan kata lain apa yang akan dibuat dan bagaimana cara membuatnya secara teknis. Ini adalah tahap development dan prototyping serta penyesuaian dari kapasitas perusahaan.
- Memberikan Hasil = jika poin ke lima adalah “sejauh apa kapasitas perusahaan” maka poin keenam adalah bagaimana solusi tersebut akan dijalankan dan diskalakan di pasar. Singkatnya, jika tahap 5 adalah tentang kapasitas teknis, maka tahap 6 adalah pengelolaan operasional dan strategi bisnis. Karena sebaik apapun ide nya, jika implementasi dan hasilnya tidak sesuai, maka akan sia-sia.
Contoh Implementasi Kakushin
Untuk semakin memperjelas perbedaan Kaizen, Kaikaku, Kakushin mari kita ambil contoh dari perusahaan berikut. Pertama-tama kita eliminasi Kaizen terlebih dulu, karena sudah terlihat perbedaannya. Yang masih mirip dan seringkali disalah pahami adalah Kaikaku dan Kakushin. Perbedaan paling mendasar antara Kaikaku dan Kakushin ada pada kedalaman perubahannya.
Contoh pertama adalah Netflix. Siapa yang tidak mengenal perusahaan digital ini? Awalnya mereka hanya perusahaan layanan penyewaan DVD. Namun di tahun 2007 mereka perlahan menggeser systemnya dari DVD via pos menjadi layanan streaming online. Di tahap ini langkah mereka tergolong pada Kaikaku. Mengapa demikian? Karena perusahaan masih berfokus pada reformasi sistem lama. Dimana perusahaan hanya sebatas memiliki cara lain dalam distribusi film dari fisik ke digital. Kala itu, mereka-pun masih belum berpindah ke sistem ini sepenuhnya. Artinya hanya medium dan sistemnya saja yang berubah secara radikal. Hal ini jelas menunjukan bukan pada area Kaizen, tapi juga belum sampai tahap Kakushin, karena Netflix masih beroperasi pada penyewaan “sewa film” yang sudah ada. Lalu dimana letak Kakushin pada Netflix? Nah, Netflix Versi sekarang lah jawabannya. Mereka kini sudah jauh melampaui perannya sebagai distributor di jaman dahulu dan secara total beralih ke produksi konten, meluncurkan serial eksklusif, mendisrupsi Hollywood hingga membangun algoritma. Bahkan ada istilah “Netflix and chill.” yang menandakan terbentuknya budaya baru dan merubah cara masyarakat dalam melihat hiburan. Dengan begitu, Netflix versi sekarang selaras dengan konsep Kakushin, dimana ada aspek inovasi, bersamaan dengan merubah pandangan masyarakat serta dapat menciptakan pasar baru.
Frequently Asked Questions (FAQs)
- Mengapa ketiga konsep (Kaizen, Kaikaku, Kakushin) penting bagi perusahaan?
Ketiga pendekatan ini diperlukan dan harus dijalankan secara bersamaan agar sebuah perusahaan bisa menghadapi persaingan bisnis dengan lebih baik. Kaizen memastikan perbaikan berkelanjutan, Kaikaku menangani reformasi besar, dan Kakushin mendorong terobosan inovatif. - Apa perbedaan utama antara Kaikaku dan Kakushin?
Kaikaku adalah perubahan radikal yang berfokus pada reformasi sistem internal perusahaan, seperti cara kerja atau distribusi. Sementara itu, Kakushin adalah inovasi yang menciptakan paradigma bisnis baru yang berdampak pada seluruh pasar, mengubah cara pandang masyarakat, dan menciptakan ekosistem baru. - Mengapa Netflix tahun 2007 dikategorikan sebagai Kaikaku, bukan Kakushin?
Pada tahun 2007, Netflix masih fokus pada perubahan metode distribusi dari fisik (DVD) ke digital (streaming). Substansi nilai yang dijual, yaitu "akses hiburan," tidak berubah secara fundamental. Perubahan ini adalah reformasi radikal pada proses, bukan pada identitas bisnisnya secara keseluruhan. - Apa tujuan dari 20-20 Process Model?
20-20 Process Model adalah kerangka kerja untuk mengelola inovasi sebagai sebuah proses bisnis. Tujuannya adalah membantu perusahaan mencapai pertumbuhan pendapatan melalui inovasi. Model ini dapat berperan sebagai kerangka kerja untuk mencapai Kakushin dengan panduan yang sistematis. - Apa itu Lean Thinking dan apa hubungannya dengan Kaizen, Kaikaku dan Kakushin?
Lean Thinking adalah konsep manajemen yang bertujuan untuk menciptakan nilai lebih bagi pelanggan dengan mengurangi pemborosan. Dalam teks, Kaizen, Kaikaku, dan Kakushin disebut sebagai "3K dalam konsep Lean Thinking". Ini berarti ketiga pendekatan perbaikan tersebut dianggap sebagai pilar fundamental yang digunakan untuk menerapkan perubahan positif dalam sebuah organisasi.
Kaizen, Kaikaku, dan Kakushin merupakan tiga pendekatan berbeda dalam manajemen yang saling melengkapi. Ketiganya memiliki fokus dan skala perubahan yang berbeda. Kaizen menekankan pada perbaikan kecil dan berkesinambungan, Kaikaku berfokus pada perubahan radikal dalam sistem yang ada, sedangkan Kakushin adalah inovasi disruptif yang mampu menciptakan pasar baru serta mengubah cara pandang masyarakat. Penerapan konsep Kakushin dapat dikelola melalui kerangka kerja seperti 20-20 Process Model yang menekankan pola pikir inovatif, pemahaman peluang, komunikasi, pengelolaan sumber daya, eksekusi teknis, hingga strategi implementasi di pasar. Contoh nyata terlihat pada Netflix yang berevolusi dari Kaikaku menuju Kakushin, serta Gojek dan Grab yang sejak awal merepresentasikan Kakushin dengan menciptakan model bisnis baru berbasis teknologi digital. Dengan memahami perbedaan ini, perusahaan dapat menilai apakah perubahan yang dijalani sekadar reformasi besar dalam kerangka lama atau benar-benar lompatan inovatif yang mendobrak pasar.
Referensi
Voehl, F., Harrington, H.J., Masing, T., & Voehl, K. (n.d.). 20-20 Process Model. Stringleman, P. (n.d.). Kaizen Paradox II: How the Application of Kaizen Principles to Transformative Technology Delivers Real Innovation. Swisslog.
Tigo Solutions. (2022, September 9). Kaizen, Kaikaku and Kakushin – what's the difference? Tigo Solutions. Retrieved August 24, 2025, from https://en.tigosolutions.com/kaizen-kaikaku-and-kakushin-whats-the-difference-4569#google_vignette
Voehl, F., Harrington, H. J., Mignosa, C., & Charron, R. (2014). The Lean Six Sigma Black Belt handbook: Tools and methods for process acceleration (eBook ed.). CRC Press
Duffy, K. (2023, September 25). The fascinating history of Netflix. Interesting Engineering. https://interestingengineering.com/culture/the-fascinating-history-of-netflix
Newman, L. H. (2023, September 29). Netflix’s last DVD shows how its algorithm won. Wired. https://www.wired.com/story/netflix-last-dvd-algorithms-won/
Read more Insights





